Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI)

Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) merupakan ajang penilaian mutu dan cita rasa kopi tingkat nasional yang mempertemukan kopi-kopi terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Kompetisi ini menjadi salah satu tolok ukur kualitas kopi Indonesia sekaligus mendorong petani, kelompok tani, koperasi, dan pelaku usaha kopi untuk terus meningkatkan mutu produksinya sehingga memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi.

KKSI pertama kali diselenggarakan pada tahun 2008 atas prakarsa Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka). Seiring perkembangannya, penyelenggaraan KKSI juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan di sektor perkopian nasional dengan tujuan memperkenalkan keragaman cita rasa kopi Indonesia serta mendorong peningkatan kualitas kopi dari hulu hingga hilir.

Berbeda dengan kompetisi barista atau kompetisi penyeduhan kopi, KKSI berfokus pada penilaian mutu biji kopi (green bean) yang dihasilkan oleh petani atau produsen. Penilaian dilakukan melalui proses cupping menggunakan standar kopi spesialti internasional. Berbagai aspek sensoris dinilai secara menyeluruh, antara lain aroma, flavor, aftertaste, acidity, body, balance, sweetness, uniformity, clean cup, dan overall impression. Kopi yang memperoleh skor 80 poin atau lebih dikategorikan sebagai specialty coffee.

Kategori yang dipertandingkan dalam KKSI terus berkembang mengikuti dinamika industri kopi Indonesia. Pada awal penyelenggaraannya, kompetisi dibagi ke dalam kelas Arabika dan Robusta. Seiring berkembangnya metode pengolahan, kategori tersebut kemudian disesuaikan menjadi beberapa kelas berdasarkan spesies maupun metode prosesnya. Pada tahun 2023, untuk pertama kalinya KKSI juga membuka kelas Kopi Liberika, sehingga memberi kesempatan kepada daerah-daerah penghasil Liberika untuk menampilkan karakter unik kopinya. Namun, hingga saat ini kelas Liberika tersebut hanya diselenggarakan pada edisi tahun 2023 dan belum kembali dipertandingkan pada penyelenggaraan berikutnya.

Bagi Komunitas Kopi Siboli, keikutsertaan dalam KKSI bukan semata-mata untuk mengejar prestasi. Ajang ini menjadi sarana belajar, tolok ukur mutu, sekaligus media promosi untuk memperkenalkan potensi Kopi Siboli dan Kopi Kendal kepada masyarakat perkopian Indonesia. Melalui hasil penilaian para juri, para petani dan pelaku usaha memperoleh masukan yang sangat berharga untuk terus memperbaiki budidaya, pengolahan pascapanen, hingga pengendalian mutu kopi secara menyeluruh.

Artikel ini mendokumentasikan perjalanan keikutsertaan Komunitas Kopi Siboli dalam KKSI. Seiring diperolehnya data dan arsip baru, dokumentasi ini akan terus diperbarui sehingga dapat menjadi catatan sejarah perkembangan kualitas Kopi Siboli dari waktu ke waktu.


Pada KKSI tahun 2020, Komunitas Kopi Siboli mengirimkan 1 (satu) sampel Robusta atas nama Lilik Hanifah (Produsen Kopi Sejati, Desa Getas, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal), dan mendapatkan skor 80.75. Berikut arsip Sertifikat Kepesertaan:


Sertifikat KKSI 2020: Lilik Hanifah, skor 80.75

Pada KKSI Tahun 2021, Komunitas Kopi Siboli kembali mengirimkan 7 (tujuh) sampel Robusta dan mendapatkan skor 81.33 (LH), 81.75 (DPF), 81.83 (AS) 82.17 (FR), 82.58 (SAM), 82.67 (SG), dan 83.17 (KH). Dua kali debut mengikuti KKSI ini, Komunitas Kopi Siboli baru bisa mendaftarkan kepesertaan untuk kelas Kopi Robusta. Sebetulnya Siboli juga memiliki potensi penghasil Kopi Arabica yaitu di wilayah Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, khususnya di Dusun Gunungsari, Medini, dan Promasan, di mana wilayah Dusun-dusun tersebut berada di ketinggian 900 sd lebih dari 1500 mdpl yang cocok untuk budidaya Kopi Arabica. Namun sampai dengan tahun 2021 belum cukup kesiapan untuk mengikuti ajang Nasional KKSI.  

Adapun Peserta KKSI 2021 dari Komunitas Kopi Siboli (diurutkan sesuai nomor pendaftaran) adalah:

  1. Sugiyanto, Dusun Ketro, Desa Peron, Kec. Limbangan, Petani kopi, Produsen Kopi Eco, No. Peserta R129.
  2. Khoerul Huda, Dusun Krajan, Desa Limbangan, Kec. Limbangan, Petani Kopi, No. Peserta R130.
  3. Fahrurrozi, Dusun Tercel, Desa Limbangan, Kec. Limbangan, Petani Kopi, No. Peserta R131.
  4. Amin Santoso, Dusun Ketro, Desa Peron, Kec. Limbangan, Petani kopi, Produsen Kopi Tiga Putra, No. Peserta R132.
  5. Suhaimi AM, Jl. Panembahan Senopati N0.270, Ngaliyan, Semarang, The LowCost Coffee, Produsen Kopi Matoyah dan Indie Java, No. Peserta R161.
  6. Dion Prahas Febrianto, Dusun Krajan, Desa Limbangan, Kec. Limbangan, No. Peserta R162.
  7. Lilik Hanifah, Desa Getas, Kecamatan Singorojo, Produsen Kopi Sejati, No. Peserta R163.

Berikut arsip Sertifikat Kepesertaan dari Komunitas Kopi Siboli:


Sertifikat KKSI 2021: Sugiyanto, skor 82.67

Sertifikat KKSI 2021: Khoerul Huda, skor 83.17

Sertifikat KKSI 2021: Fahrurrozi, skor 82.17

Sertifikat KKSI 2021: Amin Santosa, skor 81.83

Sertifikat KKSI 2021: Suhaimi AM, skor 82.58

Sertifikat KKSI 2021: Dion Prahas, skor 81.75

Sertifikat KKSI 2021: Lilik Hanifah, skor 81.33

Capaian skor tersebut masih jauh dari skor para juara, namun semua Kopi Siboli yang mengikuti KKSI berhasil melampaui ambang batas skor 80 yang menjadi ambang batas suatu kopi berhak menyandang gelar KOPI SPESIALTI atau FINE ROBUSTA. Tentu saja ada persyaratan lain yang harus dipenuhi baik di sisi budidaya maupun di sisi pengolahan serta pendokumentasiannya.